Kamis, 18 Desember 2014

Penyakit Difteri (Corynebacterium diphtheriae)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       LATAR BELAKANG
Difteri  merupakan penyakit akut yang mengancam nyawa yang disebabkan Corynebacterium diphtheriae. Difteri bisa menular dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung. Penyakit ini dapat menyerang bayi, anak-anak dan orang dewasa, sehingga penanganannya disesuaikan dengan usia penderita.
Pada awal tahun 1980-an terjadi peningkatan insidensi  kasus difteria pada negara bekas Uni Soviet karena kekacauan program imunisasi, dan pada tahun 1990-an masih terjadi epidemic yang besar di Rusia dan Ukraina. Pada tahun 2000-an epidemic difteria masih terjadi dan menjalar ke negara-negara tetangga.Di Indonesia, dari data lima rumah sakit di Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang, dan Palembang, melaporkan angka selama tahun 1991-1996, dari 473 pasien difteria, terdapat 45% usia balita, 27% usia kurang dari 1 tahun, 24% usia 5-9 tahun, dan 4% usia diatas 10 tahun. Difteri termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Adapun tujuan program imunisasi adalah menurunkan angka kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi ( PD3I ). Pengendalian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berdasarkan Kepmenkes No.1611/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi.
Walaupun difteri sudah jarang di berbagai tempat di dunia, tetapi kadang-kadang masih ada yang terkena oleh penyakit tersebut. Di Indonesia difteri banyak terdapat di daerah berpenduduk padat dan keadaan lingkungan yang buruk dengan angka kematian yang cukup tinggi, 50% penderita difteri meninggal dengan gagal jantung.Kejadian luar biasa ini dapat terjadi terutama pada golongan umur rentan yaitu bayi dan anak.
Dari uraian di atas dan berdasarkan permasalah yang ada, maka kami akan membahas lebih lanjut di dalam makalah ini terkait gambaran umum penyakit difteri, vaksinasi difteri dan persebaran penyakit difteri. Oleh karena itu, kami mengambil judul makalah “Penyakit Diteri”.

1.2     Rumusan Masala
a.       Apa definisi penyakit difteri?
b.       Bagaimanapatofisiologi dan etiologi penyakit difteri?
c.       Uji laboratorium apa yang digunakan untuk diagnostik penyakit difteri?
d.      Bagaimana cara pengobatan penyakit difteri?
e.       Bagaimana epidomologi, pencegahan dan pengendalian penyakit difteri?

1.3     Tujuan
a.    Tujuan umum
Masyarakat mengetahui apa itu penyakit difteri
b.    Tujuan Khusus
Masyarakat mamapu untuk mencegah penyakit difteri.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Difteri
Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan tanda khas ditandai oleh terbentuknya eksudat yang berbentuk membrane pada tempat infeksi. Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Masa tunas 2-7 hari (FKUI: 2007).
Timbulnya  lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri. Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. Tenggorokan terasa sakit, sekalipun pada difteria faucial atau pada difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Pada kasus-kasus yang berat dan sedang ditandai dengan pembengkakan dan edema dileher dengan pembentukan membran pada trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas. Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi) merupakan kasus terbanyak. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif, timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri.

2.2 Etiologi
Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae berbentuk batang gram positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive, tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin. Toxin difteri ini, karena mempunyai efek patoligik menyebabkan orang jadi sakit. Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheriae ini yaitu : type mitis, typeintermedius dan type gravis. Corynebacterium diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe.
Corynebacterium diphtheriaememiliki diameter 0,5-1µm dan panjang beberapa mikrometer. Corynebacterium bersifat khas dengan memiliki pembengakakan yang tidak teratur pada satu ujungnya sehingga memberi gambaran “bentuk ganda”. Granul tersebar sacara tidak teratur dalam batang (sering dekat kutub) dan dapat diwarnai dengan bahan celupan anilin (granula metakromatik) yang memberikan gambaran manik-manik pada batang. Setiap Corynebacterium pada apusan diwarnai cenderung tampak sejajar atau saling membentuk sudut satu dengan yang lain. Percabangan yang sebenarnya jarang terlihat pada biakan.
Empat biotipe C.diphtheriae telah dikenal secara luas : gravis, mitis, intermedius, dan balfanti. Varian-varian tersebut telah digolongkan berdasarkan ciri khas pertumbuhan seperti morfologi, koloni, reaksi biokimia, dan keparahan penyekit yang disebabkan oleh infeksi. Sangat sedikit laboratorium rujukan yang memberikan karakteristik biotipe. Insiden difteri sangat berkurang dan hubungan keparahan penyakit dengan biovarian tidak penting bagi penanganan kesehatan klinis atau masyarakat terhadap kasus atau keadaan wabah, imunokimia dan metode molekular dapat digunakan untuk menentukan isolat C.diphtheriae.

2.3 Gejala klinis Difteri
Gejala klinis penyakit difteri ini adalah :
1.    Panas lebih dari 38oC
2.    Ada psedomembrane bisa di pharynx, larynx atau tonsil.
3.    Sakit  waktu  menelan
4.    Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher.
Tidak semua gejala-gejala klinik ini tampak jelas, maka setiap anak panas yang sakit waktu menelan harus diperiksa pharynx dan tonsilnya apakah ada psedomembrane. Jika pada tonsil tampak membran putih keabu-abuan disekitarnya, walaupun tidak khas rupanya, sebaiknya diambil sediaan (spesimen) berupa apusan tenggorokan (throat swab) untuk pemeriksaan laboratorium. Gejala diawali dengan nyeri tenggorokan ringan dan nyeri menelan. Pada anak tak  jarang diikuti demam, mual, muntah, menggigil dan sakit kepala. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher sering terjadi.
2.4  Patofisiologi
Toksin difteri diabsorpsi ke dalam membran mukosa dan menyebabkan destruksi epitel dan respon radang superfisial. Epitel nekrotik melekat pada fibrin yang menonjol dan sel-sel darah merah serta putih, sehingga terbentuk “pseudomembran” keabuan-seringnya pada tonsil, faring atau laring. Kelenjar getah bening regional di leher membesar, dan terdapat edema yang jelas diseluruh. Basil difteri di dalam dabsorpsi dan menyebabkan kerusakan toksik di tempat yang jauh, terutama digenerasi parenkimatosa, infilttrasi lemak, dan nekrosis pada otot jantung, hati, ginjal, dan adrenal, kadang-kadang disertai oendarahan makroskopis. Toksin juga menyebabkan kerusakan saraf, sering mengakibatkan paralisis pallatum molle, otot mata, atau ekstremitas.
Difteri kulit atau luka terjadiabsorpsi toksin biasanya ringan dan efek sistematik dapat diabaikan. Virulensi hasil difteri disebabkan oleh kapasitasnya dalam menyebabkan infeksi, pertumbuhannya yang cepat, dan kemudian dengancepat menguraikan toksin yang diabsorpsi secara efektif. C. Diphtheriae tidak perlu bersifat toksigenik untuk menyebabkan infeksi lokal-misalnya di nasofaring atau kulit-tetapi strain non toksigenik tidak menimbulkan efek toksik lokal atau sistematik.
Tahapan infeksi C.diphtheriae dalam menyebabkan difteri yaitu :
1.    Tahap Inkubasi
Kuman difteri masuk ke hidung atau mulut dimana baksil akan menempel di mukosa saluran nafas bagian atas, kadang-kadang kulit, mata atau mukosa genital dan biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Bila bakteri sampai ke hidung, hidung akan meler. Peradangan bisa menyebar dari tenggorokan ke pita suara (laring) dan menyebabkan pembengkakan sehingga saluran udara menyempit dan terjadi gangguan pernafasan.
Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini akan menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan saraf.
Masa inkubasi penyakit difteri dapat berlangsung antara 2-5 hari. Sedangkan masa penularan beragam, dengan penderita bisa menularkan antara dua minggu atau kurang bahkan kadangkala dapat lebih dari empat minggu sejak masa inkubasi. Sedangkan stadium karier kronis dapat menularkan penyakit sampai 6 bulan.

2.         Tahap  Penyakit  Dini
Toksin biasanya menyerang saraf tertentu, misalnya saraf di tenggorokan. Penderita mengalami kesulitan menelan pada minggu pertama kontaminasi toksin.Antara minggu ketiga sampai minggu keenam, bisa terjadi peradangan pada saraf lengan dan tungkai, sehingga terjadi kelemahan pada lengan dan tungkai.Kerusakan pada otot jantung (miokarditis) bisa terjadi kapan saja selama minggupertama sampai minggu keenam, bersifat ringan, tampak sebagai kelainan ringanpada EKG. Namun, kerusakan bisa sangat berat, bahkan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak. Pemulihan jantung dan saraf berlangsung secara perlahan selama berminggu-minggu. Pada penderita dengan tingkat kebersihan buruk, tak jarang difteri juga menyerang kulit.
3.         Tahap  Penyakit  lanjut
Pada serangan difteri berat akan ditemukan pseudomembran, yaitu lapisan selaputyang terdiri dari sel darah putih yang mati, bakteri dan bahan lainnya, di dekat amandel dan bagian tenggorokan yang lain. Membran ini tidak mudah robek dan berwarna abu-abu. Jika membran dilepaskan secara paksa, maka lapisan lendir dibawahnya akan berdarah. Membran inilah penyebab penyempitan saluran udara atau secara tiba-tiba bisa terlepas dan menyumbat saluran udara, sehingga anak mengalami kesulitan bernafas.

2.5  Manifestasi Klinis
Tergantung pada berbagai faktor, maka manifestasi penyakit ini bisa bervariasi dari tanpa gejala sampai suatu keadaan / penyakit yang hipertoksik serta fatal. Sebagai factor primer adalah imunitas pejamu terhadap toksin difteria, virulensi serta toksigenitas C. diphtheriae (kemampuan kuman membentuk toksin), dan lokasi penyakit secara anatomis. Faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit pada daerah nasofaring yang sudah sebelumnya. Difteria mempunyai masa tunas 2 hari. Pasien pada umumnya dating untuk berobat setelah beberapa hari menderita keluhan sistemik. Demam jarang melebihi 38,9ºC dan keluhan serta gejala lain tergantung pada lokalisasi penyakit difteria.
A.   Difteri Saluran Pernapasan
Pada uraian klasik 1400 kasus difteri dari California focus infeksi primer adalah tonsil atau faring pada 94%, dengan hidung dan laring dua tempat berikutnya yang paling lazim. Sesudah sekitar masa inkubasi 2-4 hari, terjadi tanda-tanda dan gejala-gejala radang lokal. Demam jarang lebih tinggi dari 39ºC.
1)  Difteri Hidung
Difteria hidung pada awalnya meneyerupai common cold, dengan gejala pilek ringan tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Infeksi nares anterior (lebih sering pada bayi) menyebabkan rhinitis erosif, purulen, serosanguinis dengan pembentukan membrane. Ulserasi dangkal nares luar dan bibir sebelah dalam adalah khas. Pada pemeriksaan tampak membrane putih pada daerah septum nasi. Absorbsi toksin sangat lambat dan gejala sistemik yang timbul tidak nyata sehingga diagnosis lambat dibuat. (4)
2)  Difteri Tonsil Faring
Pada difteri tonsil dan faring, nyeri tenggorok merupakan gejala awal yang umum, tetapi hanya setengah penderita menderita disfagia, serak, malaise atau nyeri kepala. Dalam 1-2 hari kemudian timbul membrane yang melekat berwarna putih kelabu, injeksi faring ringan disertai dengan pembentukan membrane tonsil unilateral atau bilateral, yang meluas secara berbeda-beda mengenai uvula, palatum molle, orofaring posterior, hipofaring dan daerah glottis. Edema jaringan lunak dibawahnya dan pembesaran limfonodi dapat menyebabkan gambaran “bull neck”. Selanjutnya gejala tergantung dari derajat peneterasi toksin dan luas membrane. Pada kasus berat, dapat terjadi kegagalan pernafasan atau sirkulasi. Dapat terjadi paralisis palatum molle baik uni maupun bilateral, disertai kesukaran menelan dan regurgitasi. Stupor, koma, kematian bias terjadi dalam 1 minggu sampai 10 hari. Pada kasus sedang penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan bias disertai penyulit miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan membrane akan terlepas dalam 7-10 hari dan biasanya terjadi penyembuhan sempurna.
3)  Difteri Laring
Difteri laring biasanya merupakan perluasan difteri faring. Penderita dengan difteri laring sangat cenderung tercekik karena edema jaringan lunak dan penyumbatan lepasan epitel pernapasan tebal dan bekuan nekrotik. Pada difteria faring primer gejala toksik kurang nyata, oleh karena mukosa laring mempunyai daya serap toksin yang rendah dibandingkan mukosa faring sehingga gejala obstruksi saluran nafas atas lebih mencolok. Gejala klinis difteri laring sukar dibedakan dari tipe infectious croups yang lain, seperti nafas berbunyi, stridor yang progresif, suara parau dan batuk kering. Pada Obstruksi laring yang berat terdapat retraksi suprasternal, interkostal dan supraklavikular. Bila terjadi pelepasan membrane yang menutup jalan nafas biasa terjadi kematian mendadak. Pada kasus berat, membrane dapat meluas ke percabangan trakeobronkial. Apabila difteria laring terjadi sebagai perluasan dari difteria faring, maka gejala yang tampak merupakan campuran gejala obstruksi dan toksemia.


B.    Difteri Kulit
Difteri kulit berupa tukak dikulit, tepi jelas dan terdapat membrane pada dasarnya, kelainan cenderung menahun. Difteri kulit klasik adalah infeksi nonprogresif lamban yang ditandai dengan ulkus yang tidak menyembuh, superficial, ektimik dengan membrane coklat keabu-abuan. Infeksi difteri kulit tidak selalu dapat dibedakan dari impetigo streptokokus atau stafilokokus, dan mereka biasanya bersama. Pada kebanyakan kasus, dermatosis yang mendasari, luka goresan, luka bakar atau impetigo yang telah terkontaminasi sekunder. Tungkai lebih sering terkena dari pada badan atau kepala. Nyeri, sakit, eritema, dan eksudat khas. Hiperestesi lokal atau hipestesia tidak lazim. Kolonisasi saluran pernapasan atau infeksi bergejala dan komplikasi toksik terjadi pada sebagian kecil penderita dengan difteri kulit.
C.    Difteri Vulvovaginal, Konjungtiva, dan Telinga
C. diphtheriae kadang-kadang menimbulkan infeksi mukokutan pada tempat-tempat lain, seperti telinga (otitis eksterna), mata (konjungtivitis purulenta dan ulseratif), dan saluran genital (vulvovginitis purulenta dan ulseratif). Wujud klinis, ulserasi, pembentukan membrane dan perdarahan submukosa membantu membedakan difteri dari penyebab bakteri dan virus lain.

2.6  Uji Laboratorim Diagnostik
Uji laboratorium ini digunakkan untuk menegakkan kesan klinis dan signifikansi epidemologi. Apusan dari hidung, tenggorokan atau lesi lainnya yang dicurugai harus diperoleh sebelum obat-obat anti mikroba diberikan. Apusan diwarnai dengan Methylen blue alkalis atau pewarnaan gram yang memperlihatkan batang-batang bermanik dalam susuna yang khas.
Inokulasikan lempeng agar darah, Slant lofller, dan lempeng telurit dan diinkubasi pada suhu 37oC. Isolat C.diphtheriae presumtif harus dijadikan subjek pada pengujian untuk toksigenitas. Uji-uji seperti ini dilakukan hanya di laboratorium kesehatan masyarakat rujukan. Terdapat beberapa metode, sbb:
a.         Cakram kertas filter yang mengandung antitoksin diletakkan di atas lempeng agar. Biakan yang diuji untuk memeriksa toksigenitas digores di atas lempeng berdekatan dengan diskus. Setelah 48 jam inkubasi, antitoksin yang berdifusi dari biakan toksigenik dan menyebabkan pita presipitat antara cakram dan pertumbuhan bakteri. Uji tersebut adalah metode Elek yang dimodifikasi yang dideskripsikan oleh Unit Rujukan Difteri WHO.
b.         Metode berbasis reaksi rantai polimerase telah dijelaskan untuk deteksi gen toxin difteri (tox). Uji PCR untuk tox juga dapat digunakan secara langsung pada spesimen pasien sebelum ada hasil biakan. Biakan positif menegakkan uji pCR positif. Biakan negatif setelah terapi antibiotik bersama dengan uji PCR yang positif menunjukkan bahwa pasien mungkin menderita difteri.
c.         Enzim-linked immunosorbent assay dapat digunakan untuk mendeteksi toksin difteri dari isolat C.diphtheriae klinis.

2.7  Pengobatan Penyakit Difteri
Tujuan pengobatan penderita difteria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C. diphtheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria.


a.         Pengobatan umum
Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negative 2 kali berturut-turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu, pemberian cairan serta diet yang adekuat, makanan lunak yang mudah dicerna, cukup mengandung protein dan kalori. Penderita diawasi ketat atas kemungkinan terjadinya komplikasi antara lain dengan pemeriksaan EKG pada hari 0, 3, 7 dan setiap minggu selama 5 minggu. Khusus pada difteri laring di jaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer.
b.         Pengobatan Khusus
1.      Antitoksin : Anti Diphtheria Serum (ADS)
Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteria. Dengan pemberian antitoksin pada hari pertama, angka kematian pada penderita kurang dari 1%. Namun dengan penundaan lebih dari hari ke-6, angka kematian ini biasa meningkat sampai 30%.
Dosis ADS Menurut Lokasi Membran dan Lama Sakit
Tipe Difteria Dosis ADS (KI) Cara pemberian
Difteria Hidung 20.000 Intramuscular
Difteria Tonsil 40.000 Intramuscular / Intravena
Difteria Tonsil 40.000 Intramuscular / Intravena
Difteria Laring 40.000 Intramuscular / Intravena
Kombinasi lokasi diatas 80.000 Intravena
Difteria + penyulit, bullneck 80.000-100.000 Intravena
Terlambat berobat (>72 jam) 80.000-100.000 Intravena
Sebelum Pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih dahulu, oleh karena pada pemberian ADS dapat terjadi reaksi anafilaktik, sehingga harus disediakan larutan adrenalin a:1000 dalam semprit. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1.000 secara intrakutan. Hasil positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm. Uji mata dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1:10 dalam garam fisiologis. Pada mata yang lain diteteskan garam fisiologis. Hasil positif bila dalam 20 menit tampak gejala hiperemis pada konjungtiva bulbi dan lakrimasi. Bila uji kulit/mata positif, ADS diberikan dengan cara desentisasi (Besredka). Bila ujihiprsensitivitas tersebut diatas negative, ADS harus diberikan sekaligus secara intravena. Dosis ADS ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit dan lama sakit, tidak tergantung pada berat badan pasien, berkisar antara 20.000-120.000 KI seperti tertera pada tabel diatas. Pemberian ADS intravena dalam larutan garam fisiologis atau 100 ml glukosa 5% dalam 1-2 jam. Pengamatan terhadap kemungkinan efek samping obat dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama 2 jam berikutnya Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness) (1)
2.      Antibiotik
Antibiotik diberikan bukan sebagai pengganti antitoksin melainkan untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi toksin dan juga mencegah penularan organisme pada kontak. C. diphtheriae biasanya rentan terhadap berbagai agen invitro, termasuk penisilin, eritromisin, klindamisin, rifampisin dan tetrasiklin. Sering ada resistensi terhadap eritromisin pada populasi yang padat jika obat telah digunakan secara luas. Yang dianjurkan hanya penisilin atau eritromisin; eritromisin sedikit lebih unggul daripada penisilin untuk pemberantasan pengidap nasofaring.
Dosis :    -    Penisilin prokain 25.000-50.000 U/kgBB/hari i.m. , tiap 2 jam selama 14 hari atau bila hasil biakan 3 hari berturut-turut (-)
-          Eritromisin 40-50 mg/kgBB/hari, maks 2 g/hari, p.o. , tiap 6 jam selama 14 hari.
-          Penisilin G kristal aqua 100.000-150.000 U/kgBB/hari, i.m. atau i.v. , dibagi dalam 4 dosis.
-          Amoksisilin.
-          Rifampisin.
-          Klindamisin.
Terapi diberikan selama 14 hari. Bebrapa penderita dengan difteri kulit diobati 7-10 hari. Lenyapnya organisme harus didokumentasi sekurang-kurangnya dua biakan berturut-turut dari hidung dan tenggorok (atau kulit) yang diambil berjarak 24 jam sesudah selesai terapi.
3.        Kortikosteroid
Belum terdapat persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini pada difteria. Dianjurkan korikosteroid diberikan kepada kasus difteria yang disertai dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas (dapat disertai atau tidak bullneck) dan bila terdapat penyulit miokarditis. Pemberian kortikosteroid untuk mencegah miokarditis ternyata tidak terbukti. Dosis : Prednison 1,0-1,5 mg/kgBB/hari, p.o. tiap 6-8 jam pada kasus berat selama 14 hari.
c.         Pengobatan Penyulit
Pengobatan terutama ditujukan untuk menjaga agar hemodinamika tetap baik. Penyulit yang disebabkan oleh toksin pada umumnya reversible. Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi.
2.8  Pencegahan
Pencegahan secara umum dengan menjaga kebersihan dan memberikan pengetahuan tentang bahaya difteria bagi anak. Pada umumnya setelah seseorang anak menderita difteria, kekebalan terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi DPT dan pengobatan karier. Seorang anak yang telah mendapat imunisasi difteria lengkap, mempunyai antibodi terhadap toksin difteria tetapi tidak mempunyai antibody terhadap organismenya. Keadaan demikian memungkinkan seseorang menjadi pengidap difteria dalam nasofaringnya (karier) atau menderita difteri ringan.
Toksoid difteri dipersiapkan dengan pengobatan formaldehid toksin, kekuatannya dibakukan, dan diserap pada garam alumunium, yang memperbesar imunogenitas. Dua preparat toksoid difteri dirumuskan sesuai dengan kandungan batas flokulasi (Bf) suatu pengukuran kuantitas toksoid. Preparat pediatric (yaitu DPT,DT,DTaP) mengandung 6,7-12,5 Bf unit toksoid difteri per dosis 0,5mL; preparat dewasa (yaitu Td) mengandung tidak lebih dari 2 Bf unit toksoid per 0,5 mL dosis. Formulasi toksoid potensi yang lebih tinggi (yaitu D) digunakan untuk dosis seri primer dan booster untuk anak umur 6 tahun karena imunogenitasnya superior dan reaktogenisitasnya minimal. Untuk individu umur 7 tahun dan yang lebih tua, Td dianjurkan untuk seri primer dan dosis booster, karena kadar toksoid difteri yang lebih rendah cukup imunogenik dank arena semakin kadar toksoid difteri makin tinggi reaktogenitas pada umur yang semakin tinggi.
Rencana (Jadwal) :   -    Untuk anak umur 6 minggu sampai 7 tahun , beri 0,5 mL dosis vaksin mengandung-difteri (D). seri pertama adalah dosis pada sekitar 2,4, dan 6 bulan. Dosis ke empat adalah bagian intergral seri pertama dan diberikan sekitar 6-12 bulan sesudah dosis ke tiga. Dosis booster siberikan umur 4-6 tahun (kecuali kalau dosis primer ke empat diberikan pada umur 4 tahun).
-       Untuk anak-anak yang berumur 7 tahun atau lebih, gunakan tiga dosis 0,5 mL yang mengandung vaksin (D). Seri primer meliputi dua dosis yang berjarak 4-8 minggu dan dosis ketiga 6-12 bulan sesudah dosis kedua.
-       Untuk anak yang imunisasi pertusisnya terindikasi digunakan DT atau Td. Mereka yang mulai dengan DTP atau DT pada sebelum usia 1 tahun harus mengalamilima dosis vaksin yang mengandung difteri (D) 0,5 mL pada usia 6 tahun. Untuk mereka yang mulai pada atau sesudah umur 1 tahun, seri pertama adalah tiga dosis 0,5 mL vaksin mengandung difteri, dengan booster yang diberikan pada usia 4-6 tahun, kecuali kalau dosis ketiga diberikan sesudah umur 4 tahun.











BAB III
PENUTUP
3.1              Kesimpulan
a.              Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan tanda khas ditandai oleh terbentuknya eksudat yang berbentuk membrane pada tempat infeksi.
b.             Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
c.              Penyakit difteri dapa dicegah dengan cara pemberian imunisasi DPT

3.2              Saran
Imunisasi sangat penting di berikan pada bayi karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap PD3I, jadi sebaiknya bayi harus diberikan Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIDL) tanpa ada yang terlewat.




DAFTAR PUSTAKA

Arias, Kathleen Meehan. 2000. Investigasi dan Pengendalian Wabah di Fasilitas Kesehatan. Jakarta : EGC.
Arvin, Berham Kliegman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC.
Dr. T.H.Rampengan, Spa (k) dan Dr. I.R. Laurentz, Spa. 1992. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, Difteri, 1-18 2.
Harmita dan Maksum Radji. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. Jakarta : EGC.
Harmita dan Maksum Radji. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. Jakarta : EGC.
Garna Herry, dkk. 2000. Difteri. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi kedua. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS. 173-176









KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kami diberikan kesehatan serta kemampuan sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah berjudul “Penyakit Difteri” dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Dalam makalah ini penulis mengahrapkan agar makalah ini dapat di pergunakan oleh berbagai pihak terutama unutuk teman-teman sejawat serta dapat menjadi referensi pembuatan makalah tentang penyakit Difteri selanjutnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi yang lebih baik. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Kendari    Desembar  2014

Penulis


Tugas Makalah PPM Infeksi Saluran Cerna



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kami diberikan kesehatan serta kemampuan sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah berjudul “Pencemaran Lingkungan Yang Disebabkan Merkuri (Hg)” dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Dalam makalah ini penulis mengahrapkan agar makalah ini dapat di pergunakan oleh berbagai pihak terutama unutuk teman-teman sejawat serta dapat menjadi referensi pembuatan makalah tentang penyakit infeksi saluran pencernaan selanjutnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi yang lebih baik. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Kendari     Nopember 2014

Penulis









BAB I
PENDAHULIAN
1.        Latar Belakang
Pada tahun 1980, gastroenteritis dengan semua penyebabnya mengakibatkan 4,6 juta kematian pada anak-anak, dengan mayoritas kasus terjadi di negara berkembang. Tingkat kematian berkurang secara signifikan (menjadi sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun) sejak tahun 2000, terutama karena pengenalan dan penggunaan luas terapi rehidrasi oral
Infeksi Saluran Pencernaan merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan manusia. Penyakit ini tentunya terasa sangat mengganggu karena tidak jarang menimbulkan rasa sakit dan menghambat aktivitas. Penyakit ini termasuk sering menyerang walaupun memang tergolong bisa disembuhkan. Ada beberapa jenis penyakit infeksi yang akan dibahas dalam artikel ini. Secara umum, infeksi bisa terjadi karena adanya bakteri di dalam saluran pencernaan akibat makanan atau minuman yang tidak bersih serta pola makan yang tidak teratur.
Secara global, sebagian besar kasus pada anak-anak disebabkan mikroorganisme misal bakteri, parasit maupun virus. Penularannya bisa terjadi karena konsumsi makanan yang dimasak secara tidak benar atau air yang terkontaminasi atau melalui persinggungan langsung dengan orang yang terinfeksi.
Yang paling utama dalam penanganan penyakit ini adalah hidrasi yang cukup. Untuk kasus ringan atau sedang, ini bisa dilakukan melalui pemberian larutan rehidrasi oral. Untuk kasus yang lebih berat, pemberian cairan melalui infus mungkin diperlukan. Gastroenteritis paling banyak terjadi pada anak-anak dan masyarakat di negara berkembang.
Dari studi kasus yang diberikan, kami mengangkat infeksi saluran pencernaan dalam makalah ini karena kasus ini mendapat urutan ke dua penyakit yang menonjol pada wilayah kerja puskesmas Angkasa bumi.
2.        Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
Bagaimana cara menyelesaikan kasus penyakit infeksi di Wilayah kerja Puskesmas Angkasa Bumi dengan Menggunakan pendekatan PPM?


3.        Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu :
a.       Untuk menurunkan jumlah penderita penyakit infeksi saluran cerna.
b.      Memberikan pemahaman kepada masyarakat di daerah kerja puskesmas Seribu malam tentang penyakit infeksi saluran pencernaan.
c.       Untuk mengetahui cara pendekatan PPM dalam menurunkan infeksi saluran cerna.













 
BAB II
GAMBARAN UMUM

Puskesmas Angkasa bumi adalah salah satu puskesmas di Kabupaten Seribu Malam. Wilayah kerja puskesmas tediri dari desa dengan jumlah penduduk 6000 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga  1.200 KK. Luas wilayah ±25 Km2 persegi.
Secara Topografi sebagian wilayah 4 desa di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut dan sebagian lagi berada di wilayah yang datar.
Data umum keadaan kesehatan di wilayah tersebut:
a.       Unit Pelayanan Kesehatan
1.      1 buah Puskesmas Perawatan
2.      2 buah Puskesmas pembantu
3.      30 buah posyandu
4.      2 buah pondok bersalin
b.      Ketenagaan
1.      180 kader posyandu, 70% kader tidak aktif
2.      16 orang dukun bersalin (semua belum dilatih).
c.       Tenaga Kesehatan Terbatas
1.      1 orang dokter umum
2.      12 orang pearawat
3.      1 orang tenaga sanitarian
4.      1 orang tenaga gizi
5.      2 orang tenaga kesehatan masyarakat
6.      1 orang laboran
7.      1 orang tenaga asisten apoteker
8.      8 orang tenaga administrasi
d.      Sarana dan Prasarana
1.      1 buah mobil puskesmas keliling
2.      3 buah motor roda 2
3.      3 buah sepeda juru imunisasi
e.       Data penyakit yang menonjol
1.      Penyakit ISPA
2.      Penyakit Saluran Pencernaan
3.      Penyakit Kulit
4.      Penyakit Cacingan
5.      Penyakit Kurang gizi Balita
6.      Penyakit Infeksi (Malaria-TBC) Yang belum tertangani dengan baik.
f.       Data Kesehatan Lingkungan
1.      30% masyarakat menggunakan jamban dan air minum yang memenuhi syarat.
2.      Masyarakat menggunakan kali, kebun, di hutan sebagai tempat buang air besar
3.      Sumber air yang digunakan adalah air kali, sumur gali, dan daerah pegunungan menggunakan mata air.
4.      2 desa penduduknya membeli air untuk kebutuhan sehari-hari akibat tidak ada sumber air yang mudah di dapat.
5.      Genangan air terdapat dimana-mana, belum tertangani dengan baik.
g.      Data status Kesehatan
1.      Angka kematian bayi tinggi, 25 % persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan selebihnya oleh dukun atau tenaga lain yang profesional
2.      Angka absensi anak sd cukup tinggi akibat sering sakit dan intelegensi mereka realitf rendah karena gizi kurang dan prevelensi cacing askarais cukup tinggi.
3.      Perumahan hanya 40 % memenuhi syarat kesehatan.
h.      Data umum
1.      Kegiatan posyandu antara hidup dan mati
2.      Prnghasilan rata-rata penduduk relatif cukup bagus
3.      Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup bagus
4.      Camat dan kepala desa respon terhadap kesehatan relatif belum maksimal
5.      Petugas kesehatan 30% tinggal di luar wilayah kerja puskesmas





BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
1.        Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan
Infeksi Saluran Pencernaan merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan manusia. Penyakit ini tentunya terasa sangat mengganggu karena tidak jarang menimbulkan rasa sakit dan menghambat aktivitas. Penyakit ini termasuk sering menyerang walaupun memang tergolong bisa disembuhkan. Ada beberapa jenis penyakit infeksi yang akan dibahas dalam artikel ini. Secara umum, infeksi bisa terjadi karena adanya bakteri di dalam saluran pencernaan akibat makanan atau minuman yang tidak bersih serta pola makan yang tidak teratur.
Gastroenteritis biasanya disertai dengan diare dan muntah, atau meskipun tidak terlalu banyak terjadi, hanya disertai dengan salah satu gejala tersebut. Tanda-tanda dan gejala biasanya muncul 12–72 jam setelah terjangkit agen penginfeksi. Bila disebabkan oleh virus, kondisi ini biasanya membaik dalam satu minggu. Beberapa gejala yang diakibatkan oleh virus juga mungkin diasosiasikan dengan demam, letih, sakit kepala, dan nyeri otot. Jika tinja mengandung darah, lebih kecil kemungkinannya disebabkan oleh virus dan lebih besar kemungkinannya disebabkan oleh bakteri. Beberapa infeksi bakteri juga bisa diasosiasikan dengan nyeri perut akut dan mungkin bertahan selama beberapa minggu.

2.        Jenis-Jenis Infeksi Saluran Pencernaan
Infeksi pencernaan adalah maag atau juga disebut tukak lambung. Salah satu penyebab maag adalah adanya bakteri bernama Helicobacter pylori. Bakteri ini akan merusak lambung dan akhirnya menyebabkan maag. Maag sendiri dirasakan penderita dengan gejala perut yang terasa sangat melilit. Sebaiknya penderita maag segera minum obat maag untuk mengurangi rasa sakitnya. Maag juga disebabkan karena terlambat makan sehingga penderita harus benar-benar selalu menjaga pola makan yang teratur.
Selanjutnya ada sembelit atau sering disebut susah buang air besar. Biasanya orang yang sembelit, buang air besarnya tidak setiap hari tapi sekitar tiga hari sekali. Sembelit disebabkan karena di dalam usus besar terjadi penyerapan volume air yang terlalu besar sehingga tinja menjadi kering dan mengeras. Tinja yang mengeras ini membuatnya sulit untuk dikeluarkan dan terkadang saat pengeluarannya mengeluarkan darah dan terasa sakit. Penderita sembelit juga sering buang angin dan perut terasa tidak nyaman. Penyebabnya sederhana yakni kurangnya cairan di dalam tubuh serta kurangnya serat. Jika didiamkan bisa menyebabkan wasir makin besar dan terasa panas. Penderita sembelit sebaiknya segera meminum banyak air dan memperbanyak konsumsi serat melalui sayur dan buah.
Infeksi saluran pencernaan lainnya adalah radang usus buntu. Sesuai dengan namanya, infeksi ini terjadi karena usus buntu yang mengalami peradangan akibat adanya benda asing di usus dan tidak bisa keluar dengan sendirinya. Biasanya orang yang suka makan pedas, seringkali biji cabai tertinggal di usus buntu dan tidak bisa keluar. Benda asing tersebut menyebabkan usus buntu kelamaan pecah dan menyebabkan selaput di perut ikut meradang. Infeksi ini ditangani dengan cara dioperasi yakni usus buntunya dibuang. Operasi usus buntu tergolong ringan dan penderitanya tidak akan mengalami dampak yang terlalu besar setelah operasi karena usus buntu memang sebenarnya tidak memiliki fungsi yang signifikan.
Salah satu organ saluran pencernaan adalah kelenjar ludah. Kelenjar ludah yang terserang virus akan membengkak dan menyebabkan penyakit gondongan. Gondongan akan menyebabkan proses pencernaan secara keseluruhan menjadi terhambat. Penyakit ini cukup sering ditemui dengan gejala pembengkakan di pipi bagian bawah atau di leher atas. Selain itu, gondongan juga disertai dengan demam dan susah makan. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan pemberian obat yang bisa melemahkan virus dan biasanya dalam 4 hari akan sembuh.
Infeksi pencernaan yang paling sering didengar adalah diare. Dan merupakan penyakit infeksi saluran pencernaan yang paling sering banyak menyerang di daerah pedesaan atau daerah terpencil dengan sistem hygenitas yang rendah. Diare tidak hanya menyerang orang dewasa saja tetapi juga usia bayi. Diare disebabkan karena usus besar kemasukan sejenis bakteri. Bakteri tersebut menyebabkan kerja usus besar menjadi tidak maksimal yakni tidak bisa menyerap air dengan baik. Akibatnya, penderita diare akan sering buang air besar yang encer atau mengandung banyak air. Diare harus segera diatasi karena lama-lama bisa menyebabkan tubuh kehilangan cairan atau dehidrasi.



3.        Penyebab Diare
Diare terjadi akibat adanya rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus sehingga menimbulkan reflex mempercepat peristaltic usus, rangsangan ini dapat ditimbulkan oleh :
a.       Infeksi oleh bakteri pathogen, misalnya bakteri E.Colie
b.       Infeksi oleh kuman thypus (kadang-kadang) dan kolera
c.       Infeksi oleh virus, misalnya influenza perut dan ‘travellers diarre’
d.      Akibat dari penyakit cacing (cacing gelang, cacing pita)
e.       Keracunan makanan dan minuman
f.       Gangguan gizi
g.       Pengaruh enzyme tertentu
h.       Pengaruh saraf (terkejut, takut, dan lain sebagainya)

Beberapa perilaku yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita, yaitu ( Depkes RI, 2007):
1.       Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama pada kehidupan. Pada balita yang tidak diberi ASI resiko menderita diare lebih besar daripada balita yang diberi ASI penuh, dan kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar.
2.       Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman karena botol susah dibersihkan. Penggunaan botol yang tidak bersih atau sudah dipakai selama berjam-jam dibiarkan dilingkungan yang panas, sering menyebabkan infeksi usus yang parah karena botol dapat tercemar oleh kuman-kuman/bakteri penyebab diare. Sehingga balita yang menggunakan botol tersebut beresiko terinfeksi diare.
3.       Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercermar dan kuman akan berkembang biak.
4.       Menggunakan air minum yang tercemar.
5.       Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
6.       Tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan bahwa tinja tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
Faktor perilaku penyebab diare di daerah Dusun Ngumpul, Jogoroto, Jombang :

a.       Masih kurang dalam pengetahuan tentang akibat dan cara penanganan penyakit diare,
b.       Membiarkan anak bermain di sungai,
c.       Tidak membiasakan anaknya untuk cuci tangan sebelum makan, 
d.      Mencuci tangan tidak menggunakan sabun, tetapi hanya dilakukan sewaktu tangan tampak kotor,
e.       Masih banyaknya masyarakat yang membiarkan anaknya bermain di sungai, BAB disungai, mereka masih memanfaatkan “toilet terbuka” yang biasanya terletak di kebun, pinggir sungai, atau empang.
f.       Membuang sampah di belakang rumah ataupun di lahan kosong belakang rumah.

C.      Penularan Diare
Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :
1)      Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
2)      Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan, mainan, ataupun yang lain kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
3)      Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar.
4)      Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
5)      Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.









D.   Gejala dan Akibat diare
Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat kelompok yaitu :
1)      Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang dari tujuh hari),
2)      Disentri; yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya,
3)      Diare persisten; yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus menerus,
4)      Diare dengan masalah lain; anak yang menderita diare (diare akut dan persisten) mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Diare akut dapat mengakibatkan:
(1)     Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia,
(2)     Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah,
(3)     Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah.

D.1    Gejala Diare
a.       Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu tubuhnya meninggi
b.       Tinja bayi encer, berlendir, atau berdarah
c.       Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu
d.      Anusnya lecet
e.       Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang
f.       Muntah sebelum atau sesudah diare
g.       Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah)
h.       Dehidrasi (kekurangan cairan)




D.2    Akibat Diare
a)       Dehidrasi
Dehidrasi akan menyebabkan gangguan keseimbangan metabolisme tubuh. Gangguan ini dapat mengakibatkan kematian pada bayi. Kematian ini lebih disebabkan bayi atau anak kehabisan cairan tubuh. Hal ini disebabkan karena asupan cairan itu tidak seimbang dengan pengeluaran melalui muntah dan berak, meskipun berlangsung sedikit demi sedikit. Banyak orang menganggap bahwa pengeluaran cairan seperti ini adalah hal biasa dalam diare. Namun, akibatnya sungguh berbahaya. Presentase kehilangan cairan tidak harus banyak baru menyebabkan kematian. Kehilangan cairan tubuh sebanyak 10% saja sudah membayakan jiwa.
Dehidrasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang dan dehidrasi berat. Disebut dehidrasi rigan jika cairan tubuh yang hilang 5%. Jika cairan yang hilang sudah lebih 10% disebut dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang, denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah, tekanan darah merendah, penderita lemah, kesadaran menurun dan penderita sangat pucat.
b)      Gangguan pertumbuhan
Gangguan ini terjadi karena asupan makanan terhenti sementara pengeluran zat gizi terus berjalan. Jika tidak ditangani dengan benar, diare akan menjadi kronis. Pada kondisi ini obat-obatan yang diberikan tidak serta merta dapat menyembuhkan diare. Ketidaktahuan orangtua, cara penanganan dokter yang tidak tepat, kurang gizi pada anak, dan perubahan makanan mendadak dapat menjadi faktor pencetus diare.
Pada orang dewasa, diare jarang menimbulkan kematian. Pada bayi atau anak-anak, dalam waktu singkat, diare akan menyebabkan kematian. Jika diare dapat disembuhkan tetapi sering terjadi lagi, akan menyebabkan berat badan anak terus merosot. Akibatnya, anak akan kekurangan gizi yang menghambat pertumbuhan fisik dan jaringan otaknya.



E.   Pencegahan Diare
Pencegahan Diare bisa dilakukan dengan mengusahakan lingkungan yang bersih dan sehat.
1)      Usahakan untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
2)      Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.
3)      Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan sanitasi standar di lingkungan tempst tinggal. Air dimasak benar-benar mendidih, bersih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.
4)      Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.
5)      Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan, kaki, dan muka.
6)      Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di sembarangan tempat. Kalau bisa membawa makanan sendiri saat ke sekolah
7)      Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal, seperti air bersih dan jamban/WC yang memadai.
8)      Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi standar. Misalnya, jarak antara jamban (juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air sedikitnya 10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan demikian, warga bisa menggunakan air bersih untuk keperluan sehari- hari, untuk memasak, mandi, dan sebagainya.

H.   Pertolongan Pertama
Bila sudah terlanjur terserang diare, upaya pertolongan pertama yang perlu segera dilakukan:
1)    Minumkan cairan oralit sebanyak mungkin penderita mau dan dapat meminumnya. Tidak usah sekaligus, sedikit demi sedikit asal sering lebih bagus dilakukan. Satu bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak (200 cc). Jika oralit tidak tersedia, buatlah larutan gula garam. Ambil air masak satu gelas. Masukkan dua sendok teh gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur. Aduk rata dan berikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum. 5
2)    Penderita sebaiknya diberikan makanan yang lunak dan tidak merangsang lambung, serta makanan ekstra yang bergizi sesudah muntaber.
3)    Apabila Penderita mengalami muntaber sebaiknya dibawa ke dokter, jika muntaber tidak berhenti dalam sehari atau keadaannya parah, rasa haus yang berlebihan, tidak dapat minum atau makan, demam tinggi, penderita lemas sekali serta terdapat darah dalam tinja.
E.   Pendekatan PPM dalam Penyelesaian Masalah
1.         Pelaksanaan
Pada wilaya kerja puskesma Angkasa Bumi, terdapat jumlah penduduk 6.000 jiwa dengan jumlah Kepala keluarga 1.200 KK, yang di bagi menjadibeberapa desa dengan spesifikasi 4 desa terletak di ketinggian 600 m di atas permukaan laut den sisanya di wilayah yang datar.
Masalah yang di hadapi yaitu tingginya prevelensi penyakit, diantaranya yaitu penyakit ISPA, Infeksi Saluran Pencernaan, penyakit kulit, penyakit cacingan, kekurangan gizi pada balita, penyakit infeksi (malaria-TBC). Dengan data kesehatan hanya 30% masyarakat yang menggunakan jamban dan air minum memenuhi syarat, masyarakat menggunakan kebun, kali, dan hutan sebagai tempat buang air besar, dan sumber5 air yang digunakan yaitu bersumber dari kali, sumur gali, dan daerah pegunungan menggunakan mata air.
Kajian yang menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif ini menggunakan metode focus group discussion (FGD) diharapkan dapat diperoleh data yang jauh lebih lengkap. Dengan melibatkan berbagai pimpinan instansi terkait seperti Pemerintah daerah (Dinas Kesehatan), LSM, kalangan akademisi, dan pelaksana pelayanan kesehatan (PPK) seperti Puskesmas.
2.         Hasil dan Temuan
Dari hasil FGD di daerah tersebut, beberapa temuan yang penting untuk diungkapkan sebagai hasil dari kajian ini adalah sebagai berikut:
        Aspek kepesertaan.
Permasalahan yang ditemui adalah:
§  Kurangnya jumlah pegawai atau tenaga kesehatan di puskesmas
§  Kurangnya kader posyandu yang aktif
§  Kurangnya respon dari camat dan kepala desa.





        Aspek organisasi.
Permasalahan yang dihadapi diantaranya adalah:
         Sosialisasi program masih belum optimal pada seluruh masyarakat terkait.
         Kegiatan posyandu antara hidup dan mati

        Aspek pelayanan kesehatan.
Permasalahan yang ditemukan adalah:
§  Aspek pelayanan kesehatan
Permasalahan yang dihadapi diantaranya adalah:
-      Kegiatan posyandu antara hidup dan mati
-      Petugas kesehatan 30% tinggal di luar wilayah kerja puskesmas
§  Aspek pemantauan dan evaluasi
Seringkali tim pemantau dan evaluasi bertindak secara tidak berkesinambungan, sehingga pelaksanaan program dipuskesmas tidak berjalan dengan baik. Padahal posisi tim pemantau dan evaluasi ini sangat penting dalam mengawal pelaksanaan setiap tahap program dipuskesmas. Sehingga program yang sudah disusun bisa terealisasi secara menyeluruh.

a.     Upaya pemecahan masalah

Dari berbagai persoalan di atas, berikut ini diberikan saran rekomendasi agar penyelenggaraan program dipuskesmas bisa berjalan lebih baik, sebagai berikut:
1.        Perlu ketegasan pemerintah dalam hal ini camat dan kepala desa. Hal itu sekaligus dapat digunakan untuk mengatasi permasalah pelayanan kesehatan yang selama ini tidak optimal.
2.        Peningkatan efektifitas.
Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah penyebaran atau alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki, maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya mengutamakan upaya pencegahan, bukan pengobatan penyakit.
3.        Peningkatan efisiensi.
Peningkatan efisiensi dilakukan dengan memperkenalkan berbagai mekanisme pengawasan dan pengendalian. Mekanisme yang dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:
-     Standar minimal pelayanan.
Tujuannya adalah menghindari pemborosan. Pada dasarnya ada dua macam standar minimal yang sering dipergunakan yakni:
1.    standar minimal sarana, ditujukan untuk standar minimal pembangunan sumber air bersih dan standar minimal pembangunan jamban.
2.    standar minimal tindakan, tata cara pengobatan dan perawatan penderita, dan daftar obat-obat esensial yang sangat dibutuhkan.
-     Kerjasama.
Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah memperkenalkan konsep kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan. Terdapat dua bentuk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:
1.    Kerjasama institusi, yaitu kerajsama dengan pemerintah desa, camat, dan puskesmas.
2.    Kerjasama sistem, yaitu kerjasama antara petugas puskesmas atau leader dengan masyarakat untuk penyelasaian permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Angkasa Bumi.











4.         Gambaran Kegiatan dalam POAC
No
KEGIATAN
1
Planning (perencanaan)
a.         Pengumpulan data
b.         Analisis Situasi
c.         Penyusunan Rencana Kerja
d.        Mobilisasi sumber daya
2
Organizing
a.         Penyuluhan dan promosi
b.         Advokasi
c.         Kaderisasi posyandu
d.        Menambah pegawai puskesmas
3
a.          Membangun jamban yang layak
b.          Membangun sumber air bersih
c.          Menghidupkan kembali posyandu

4
Controling (pengawasan)
Gambaran kegiatan POAC
a.      Langkah-Langkah Planing
1.    Pengumpulan data
Puskesmas Angkasa Bumi Adalah Salah Satu Puskesmas Di Kabupaten Seribu Malam Wilayah Kerja Puskesmas Terdiri Dari Desa Dengan Jumlah Penduduk 6.000 jiwa dengan jumlah kepala leluarga 1.200 KK dengan luas wilayah ± 25 Km 2 persegi Secara topografi sebagian wilayah 4 desa berada di ketinggian 600 m diatas permukaan laut dan sebagian lagi berada di wilayah yang datar
a.         Data Penyakit Yang Menonjol
·           Penyakit kulit
·           Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan
·           Penyakit ispa
·           Penyakit cacingan
·           Kekurangan gizi pada balita
·           Penyakit infeksi, malaria-TBC
b.         Data Kesehatan lingkungan
·           30% masyarakat menggunakan jamban dan air minum yang memenuhi syarat.
·           Masyarakat menggunakan kali,kebun dan hutan sebagai tempat buang air besar
·           Sumber air yng digunakan adalah air kali,sumur gali dan daerah pegunungan menggunakan mata air,
·           2 desa penduduknya membeli air untuk kebutuhan sehari-hari akibat tidak ada sumber air yang mudah didapat.
·           Genangan air terdapat dimana-mana, belum tertanggani dengan baik
2.    Analisa situasi (ANALISIS SWOT)
1.         Strenghs (kekuatan).
-       Adanya dukungan tokoh masyarakat
-       Ketersediaan dana yang cukup dari pemerintah untuk penaggulangan penyakit kulit
-       SDM yang sudah mampu untuk melakukan edukasi, penyuluhan kepada masyarakat setempat mengenai Infeksi saluran pencernaan
2.         Weakness (kelemahan).
-       Masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat, serta kondisi lingkungan dengan sanitasinya buruk.
-       Fasilitas kurang dan anggaran terbatas
-       Kewaspadaan dini dari SDM yang kurang terhadap kejadian wabah penyakit infeksi saluran pencernaan

3.         Opportunities (peluang).
-       Meningkatkan kinerja petugas kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
-       Meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat terhadap penyakit khususnya penyakit infeksi saluran pencernaan
-       Melakukan pelatihan pada petugas kesehatan terhadap penanganan penyakit infeksi saluran pencernaan dengan cepat tanggap secara dini, yang diharapkan dapat menemukan dan mengobati penderita penyakit kulit  dengan cepat
4.         Threats (ancaman).
-       Meningkatnya penyakit infeksi saluran pencernaan di masyarakat 
-       Kurangnya petugas sanitarian dalam perbaikan sarana sanitasi
3.    Identifikasi masalah
Infeksi Saluran Pencernaan merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan manusia. Penyakit ini tentunya terasa sangat mengganggu karena tidak jarang menimbulkan rasa sakit dan menghambat aktivitas.
Pada hakikatnya infeksi saluran pencernaan merupakan penyakit berbasis lingkungan mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan.        
4.    Menetapkan prioritas masalah
Infeksi Saluran Pencernaan merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan manusia. Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun parasit yang terdapat pada lingkungan.  Oleh karena itu berkaitan dengan penyakit infeksi saluran pencernaan ini , paling tidak ada tiga faktor utama yang mesti mendapat perhatian bersama dan saling berhubungan satu sama lain yaitu host (manusia), agent (bakteri/virus) dan environment (lingkungan) sehingga penyebaran penyakit kulit potensial terjadi apabila ketiga komponen tersebut saling mendukung. Strategi Pengorganisasia dan pengembangan masyrakat ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar, oleh karena itu dibutuhkan kesadaran masyarakat dan tenaga ahli dalam masalah ini, Jika progam ini berhasil, tentunya akan membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat, petugas kesehatan maupun pemerintah dan untuk kedepannya masyarakat dapat terjamin/terbebas dari penyakit infeksi saluran pencernaan.
5.    Menetapkan tujuan
Tujuan pengorganisasian masyarakat adalah mewujudkan suatu perubahan sosial yang transformatif dengan berangkat dari apa yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. Dan  menyadarkan masyarakat agar mereka tahu dan mengerti masalah-masalah kesehatan saluran pencernaan (diare)  yang mereka hadapi sehingga dapat berpartisipasi dalam penanggulangannya serta tahu cara memenuhi kebutuhan akan  upaya pelayanan kesehatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada. Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan, diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan terorganisasi dengan baik, untuk itu beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka menyadarkan masyarakat :
·         Lokakarya Mini Kesehatan.
·         Musyawarah Masyarakat Desa. (MMD).




b.      Langkah-Langkah Organizing
1.         Penyuluhan dan promosi
Penyuluhan dan promosi kesehatan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa itu penyakit infeksi saluran pencernaan, penyebab terjadinya infeksi saluran pencernaan khususnya diare, serta bagaimana cara mencegah agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit infeksi saluran pencernaan khususnya diare. Sehingga bila masyarakat mengetahui hal-hal tersebut masyarakat akan tergerak untuk ikut melakukan pembenahan lingkungan agara lingkungannya menjadi terbebas dari penyakit infeksi salurang pencernaan atau penyakit infeksi saluran pencernaan tidak lagi menjadi penyakit yang menonjol lagi.
2.         Advokasi
Advokasi dilakukan dalam hal ini dengan tujuan agar kegiatan yang akan dilakukan atau dijalanka mendapat persetujuan atau dukungan dari pemerintah setemapat baik camat, kepala desa, maupun tokoh-tokoh masyarakat sehingga kegiatan akan dapat berjalan dengan lancar.
3.      Kaderisasi posyandu
4.      Penambahan pegawai puskesmas Khususnya pegawai sanitarian.
c.         Langkah-langkah Actuiting
1.         Membangun jamban yang layak
2.         Membangun sumber air bersih
3.         Menghidupkan kembali posyandu
4.         Pelatihan dukun bersalin
d.        Langkah-Langkah Controling/ Monitoring
Penilaian dapat dilakukan setelah kegiatan dilaksanakan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dalam penilaian dapat dilakukan dengan Penilaian selama kegiatan berlangsung. Untuk penilain terhadap infeksi saluran pencernaan di khususkan pada pembangunan jamban yang layak dengan prsentase yaitu 80% dan masyarakan dengan cakupan air bersih dengan persentase 85%. Dengan melakukan semua kegiatan POAC di harapkan hal yang ingin di capai yaitu :


Input
Proses
Output
Outcome
Infeksi saluran pencernaan menjadi salah satu penyakit yang menonjol di wilayah Kerja Puskesmas Angkasa Bumi
-  melakukan penyuluhan kesehatan
-  melaksanakan advokasi
-  melakukan promosi kesehatan
-  melaksanakan kegiatan
·      Pembangunanan sumber air
·      Pembangunan jamban

Masyarakat dapat mengatasi permasalaha infeksi saluran pencernaan dengan melakukan pencegahan
Masyarakat di wilayah kerja puskesmas angkasa bumi bebas dari penyakit infeksi saluran pencernaan


                                                               















BAB IV
PENUTUP
3.1              Kesimpulan

Penurunan Prevalensi penyakit Infeksi Saluran Pencernaa harus dilakukan dengan cara melalkukan pencegahan yaitu dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menerapkan sistem pembangunan yang sehat, misal pembangunan jamban, pembangunan sumber air dengan jarak 10-15 meter dari penamnpungan jamban atau kandang ternak dan juga lebih mengidupkan oganisasi-organisasi kesehatan di masyarakat, misal posyandu.
Upaya pencegahan dan penanggulangan harus terus dilakukan agar  walaupun prevalensi telah turun, hal ini penting agar permasalahan Infeksi Saluran Pencernaan karena akan dampaknya terhadap kesehatan anak yang sangat mempengaruhi prestasi belajar.

3.2              Saran
1.      Sebaiknya dilakukan penyuluhan yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai penyakit infeksi saluran pencernaan, cara pencegahan, dan cara pertolongan pertama terhadap penyakit saluran pencernaan khususnya diare.
2.      Menembah tenaga kesehatan khususnya dibidang promosi kesehatan dan kesehatan lingkungan untuk mengoptimalkan kegiatan preventif di wilayah kerja.












DAFTAR PUSTAKA

Davey, Patrick. 2005. At A GlanceMedicine. Jakarta: Erlangga.
Efendi, Ferry dan Makhfudi. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.
Effendy, Nasrul. 2000. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Gledle, Jonathan. 2007. At A Glance : Anamnesia dan Pemeriksaan Fisik. Yogyakarta: Erlangga.
Isselbacher, dkk. 2002. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Khomsan, Ali dan Faisal Anwar. 2008. Sehat Itu Mudah, Wujudkan Hidup Sehat dengan Makanan Tepat. Jakarta: Hikmah.
Misnadiarly. 2009. Mengenal Penyakit Organ Cerna. Jakarta: Pustaka Populer Oboa.
World Healt Organizatoin (editor: Herdayanti Erita Agustin). 2003. Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak. Jakarta: Penrbit Buku Kedokteran (EGC).






BY: Wayan Agus Sutrimo (https://www.facebook.com/sutrimo.wayan.agus)